Inilah Dakwah Bag I

DakwahDalam menyampaikan suatu kebaikan yang pertama-tama kita harus pahami adalah perasaan orang yang menjadi target kita. Karena bisa jadi apa yang kita rasakan atau pikirkan akan berbeda dengan kenyataan yang nantinya akan kita dapatkan. Memang walaupun benar adanya bahwa ketika menyampaikan suatu kebaikan, kita harus siap untuk menerima konsekuensi yang nantinya akan kita dapatkan dari orang-orang yang tidak menyukainya. Namun kita pun jangan bertindak bodoh dengan berargumen seperti itu, karena ketika hal itu yang kita paksakan untuk dilakukan, maka dikhawatirkan kebaikan ini akan berhenti sampai sini saja dan orang akan membenci kebaikan itu karena atas dasar disampaikan melalui orang yang dibencinya.
Pada dasarnya diri kita ini adalah seorang sales yang menawarkan suatu barang dagangan dari satu orang ke orang yang lain. Dalam konteks menyampaikan kebaikan pun diri kita sebenarnya sedang menawarkan kebaikan itu sendiri yang mana ketika menawarkannya kita harus bertindak layaknya sales yang menawarkan barang dagangan tadi. Beberapa tindakan yang harus kita ketahui dalam menawarkan kebaikan ini kepada orang ini telah disebutkan dalam buku Ari Abdillah berjudul Paradigma Baru Da’wah Kampus.
Beberapa kaidah dari ushul fiqh tersebut antara lainnya:
1. Memberi keteladanan sebelum berda’wah.
2. Mengikat hati sebelum menjelaskan.
3. Mengenalkan sebelum memberi beban.
4. Bertahap dalam pembebanan.
5. Memudahkan, bukan menyulitkan.
6. Yang pokok sebelum yang cabang.
7. Membesarkan hati sebelum memberi ancaman.
8. Memahamkan, bukan memvonis.
9. Mendidik, bukan menelanjangi.
10. Muridnya guru, bukan muridnya buku. [1]
Dari kesepuluh kaidah tadi, mari kita jabarkan satu-persatu dengan contoh-contoh konkrit yang terdekat dalam kehidupan kita.
Yang pertama memberi keteladan sebelum berdakwah
Sering kita lihat dalam media sosial contohnya facebook. Sudah tidak terhitung lagi banyaknya orang yang update status yang bernuansa nilai-nilai kebaikan. Pertanyaannya adalah kenapa dengan begitu banyaknya seruan ajakan kepada kebaikan ini tidak indahkan sama sekali oleh yang melihat, bahkan cenderung untuk membencinya?. Mungkin ada hal yang kurang nampaknya dari kita yakni kita mendahulukan dakwah dari pada memberikan keteladan.
Pantaslah kiranya banyak orang yang menyampaikan pernyataannya bahwa “kami butuh bukti, bukan sekedar janji”. Inilah kenyataan yang kita lihat dilapangan saat ini, banyak orang yang mengetahui dan paham akan suatu kebaikan, namun ia lupa untuk menerapkannya pada diri sendiri terlebih dahulu akan kenikmatan yang ia ketahui dan pahami berupa kebaikan tadi. Hanya pandai berkata-kata saja, namun tidak di tampakkan dengan sebuah aksi nyata.
Seyogyanya suatu kebaikan yang disampaikan melalui keyakinan dari diri akan lebih menghujam dibandingkan dengan tanpa keyakinan. Keyakinan ini akan tumbuh melalui kenyataan yang kita rasakan ketika telah merasakan kenyamanan terhadap apa yang kita sampaikan kepada orang lain. Allah pun mengingatkan kepada kita bahwa Allah membenci orang-orang yang tidak melakukan apa yang ia katakan. Sungguh buruk apa yang mereka lakukan ketika mereka menyeru sebuah kebaikan namun dirinya sendiri pun enggan untuk melakukan apa yang ia sampaikan.
Yang kedua adalah mengikat hati sebelum menjelaskan
Hati manusia akan dapat menerima sesuatu ketika hati itu dapat yakin terhadap siapa yang menyampaikan. Ketika orang yang ia benci menyampaikan sesuatu walaupun itu adalah kebaikan, namun tetap ia tidak akan mau menerima disebabkan oleh karena yang berbicara adalah orang yang ia benci. Tidak dapat dipungkiri lagi bahwa seseorang akan lebih menerima sesuatu yang keluar dari orang yang ia anggap berkompeten dan baik baginya.
Menjadi penting kiranya ketika kita memahami tentang kepada siapa kita berbicara agar dapat mengetahui harus lewat mana pesan kebaikan harus dimasukkan. Banyak sekali pintu yang dapat menjadi peluang seseorang untuk menyampaikan kebaikan kepada orang lain. Pada hakikatnya pun manusia diciptakan berbeda-beda sifat dan pemikiran serta ketertarikan. Islam pun menyangkut seluruh aspek kehidupan, maka dari menyeluruhnya sifat Islam ini dalam hidup ini, kita perlu untuk mengetahui kepada siapa kita menyampaikan dan bagaimana caranya Islam bisa masuk ke dalam hatinya.
Yang ketiga adalah mengenalkan sebelum memberi beban
Ibarat kita tidak mencintai seseorang, namun ujug-ujug orang ini meminta haknya kepada kita. Sudah pasti kita enggan memenuhi haknya. Sama seperti sifat dakwah ini, maka sebelum kita memberikan suatu beban yang berat, maka berilah sesuatu yang menyenangkan hati terlebih dahulu. Dalam kata lain tunaikanlah dulu kewajiban kita dalam menyampaikan suatu kebaikan, barulah nantinya kita meminta hak kita dipenuhi.
Dalam dakwah ini pun kita harusnya terlebih dahulu mengenalkan kebahagian-kebahagiaan ketika kita hidup di bawah naungan islam. Berikanlah mereka harapan-harapan penuh kebahagiaan yang mereka akan dapatkan ketika hidup dibawah naungan Islam. Kabarkanlah berita gembira terlebih dahulu sebelum mengabarkan berita-berita ancaman yang datang dari Allah. Karena pada hakikatnya, ancaman itu akan tak terasa sebagai sebuah ancaman ketika seseorang telah merasakan kebahagian, karena akan malah menguatkan kecintaan pada seseorang yang telah berbahagia tadi.
Yang keempat adalah bertahap dalam pembebanan
Terkhusus untuk para aktifis dakwah yang sejatinya memiliki beban dakwah yang harus dipikul. Mereka semua seyogyanya memiliki kapasitas yang berbeda beda tergangung kemampuan mereka yang banyak hal yang melatarbelakanginya. Pembebanan ini pun tidak bisa ujug-ujug langsung beban berat kepada seorang aktifis, namun harus bertahap hingga ia memahami apa yang ia kerjakan dan harus menaikkan bebanya agar kapasistasnya semakin bertambah.
Rasulullah pun bertahap dalam dakwahnya. Dari yang tadinya sembunyi-sembunyi hingga terang-terangan. Tingkatan cobaan yang Beliau hadapi pun meninggakat dari yang tadinya sembunyi-sembunyi hanya diberikan cobaan yang setingkat, kemudian berdakwah terang-terangan untuk pencapaian yang lebih besar maka konsekuensi cobaan pun di tingkatkan. Yang harus digaris bawahi adalah cobaan ini bukan bermaksud melemahkan perjuangan, namun sebaliknya adalah malah akan memberikan kapasitas yang setara dengan cobaan yang kita akan hadapi.

Bersambung ke bagian II

Sumber:
[1] Ari Abdillah: Paradigma Baru Da’wah Kampus

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *